Bayangin azha… tiba-tiba internet di negeri +62 mati total. Hilang. Lenyyyaaap. Bukan lemot, bukan “E lagi”, tapi bener-bener putus kayak hubungan tanpa kejelasan. 😁
Menit pertama, orang-orang masih santai. “Ah paling gangguan server.” Menit kelima, mulai gelisah. Jam pertama? Panik nasional kayaknya dech...
Anak sekolah bengong karena nggak bisa buka tugas di Google. Para pejuang konten mendadak kehilangan arah hidup. Influencer scroll HP kosong kayak lagi baca kitab takdir. Status WA nggak bisa update, story IG nggak bisa upload. Dunia serasa berhenti berputar. Bahkan mungkin lebih heboh daripada mati lampu satu kecamatan.
Karyawan kantor? Bingung. Biasanya kerja buka 17 tab browser, sekarang cuma bisa buka botol minum. Meeting online gagal total. Zoom sunyi. Grup WhatsApp keluarga sepi. Para ibu-ibu yang biasa kirim “selamat pagi” beserta gambar makanan buat menu sarapan, mendadak kehilangan panggung utama.
Driver ojol duduk termenung. Tanpa aplikasi, motor cuma jadi kendaraan nostalgia. Anak muda yang biasa pacaran via chat, terpaksa dech, harus tatap muka langsung. Canggung. Keringat dingin. Ternyata ngomong langsung nggak bisa pakai fitur “hapus pesan”.
Yang paling tragis? Netizen. Mau debat, mau julid, mau jadi komentator dadakan… nggak ada kolom komentar! Negara terasa damai… tapi juga sunyi. Sunyi tanpa notifikasi.
Dan di tengah kekacauan itu, mungkin kita baru sadar: ternyata hidup tanpa internet "toh juga" masih bisa. Kita bisa ngobrol langsung, baca buku, main layangan, atau sekadar duduk sore tanpa harus update story.
Tonton Versi Tik Tik : Internet Mati Total
Dan, perlahan.. kita mulai ingat sesuatu.
Dulu tahun 80-90an hidup juga santai tanpa internet. Main petak umpet sampai magrib, nonton TV rebutan remote, kirim surat pakai perangko, nongkrong tanpa sibuk foto makanan dulu.
Dulu nggak ada story 24 jam, tapi kenangan bisa awet seumur hidup. Nggak ada like dan followers, tapi teman beneran banyak di lapangan.
Jadi kalau internet mati, mungkin awalnya panik. Tapi siapa tahu… kita cuma sedang dipaksa nostalgia. Balik ke zaman ketika bahagia nggak perlu kuota, dan ketawa nggak butuh sinyal. 😄
Mana nih, generasi 80 - 90 an ..??!

0 Komentar